BELAJAR DARI TADULAKO KAILI

Naratamo Tadulako, Tadulakota
(telah datang seorang pemimpin, pemimpin kita)
Heiheee manggeni rara, mosintomu mosisani tona dea, kana mosarara, mosasampesuvu
(membawa pesan, untuk saling bertemu dan saling mengenal satu sama lain dengan orang banyak, tetap dengan satu hati dan menjadi satu keluarga).
Syair di atas adalah syair tentang kepemimpinan yang terus ditradisikan oleh Komunitas Seni Tadulako Sulawesi Tengah. Syair itu biasa mereka nyanyikan dalam berbagai peristiwa, seperti dalam pentas-pentas budaya atau festival seni, baik lokal, nasional, maupun internasional. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang di Sulawesi Tengah juga sering melantunkan nyanntian sembari duduk-duduk santai di rumah atau sawah, saat ritual adat, atau saat bersama keluarga, teman, dan tetangga. Syair ini merupakan ekspresi kerinduan mereka terhadap sosok pemimpin (Tadulako) yang adil, mengayomi, melindungi, dan memberi kesejahteraan. Sosok pemimpin yang pernah mereka dengar dari cerita-cerita leluhur di masa lampau.
 
Dalam pertunjukannya, syair kepemimpinan di atas dilantunkan dengan diiringi kacapi dan lalove (seruling panjang Kaili) yang dimainkan oleh topo lalove dan topo kacapi dengan merdu dan menyayat. Tak pelak, bagi mereka yang memahami artinya dan menyukai musik tradisi, suasana sakral dan spiritual akan terasa. Pada beberapa festival budaya, baik lokal, nasional, maupun internasional, alat musik seperti gimba (gendang), lalove (seruling panjang Kaili) atau kacapi juga ikut mengiringi. Iramanyapun beragam, dari semula pelan hingga berakhir dengan rancak. Semua ini memiliki simbol tersendiri sehubungan dengan pola kepemimpinan yang ingin disuarakan dari sosok Tadulako.
Menurut cerita rakyat Kaili, dahulu syair-syair kepemimpinan ini dilantunkan dengan vokal rego, sebuah seni tradisi yang disuarakan dari atas dataran tinggi menuju lembah hingga ke pesisir Sulawesi Tengah, sambil diselingi teriakan-teriakan yang khas. Teriakan itu bertujuan untuk memanggil saudara-saudara mereka untuk berkumpul, bernyanyi dan menari bersama, salah satunya untuk mengagungkan pemimpin mereka. Ketika bangsa ini masih mengalami krisis kepemimpinan, maka tidak ada salahnya jika kita belajar dari kepemimpinan tradisional Kaili, Tadulako.
 
Tadulako to Kaili 
Kaili adalah suku terbesar di Sulawesi Tengah. Untuk menyebut komunitasnya, penduduk Kaili menambahkan kata to di depannya, sehingga menjadi to Kaili. to artinya orang dan Kaili artinya terus mengalir. Menurut cerita orang-orangtua Kaili, kata Kaili mirip dengan salah satu istilah mereka, noili, yang artinya mengalir, berkesplorasi atau menjelajah. Secara antropologis, Kaili adalah suku penakluk gunung, lembah, dan pesisir. 
Dalam sejarah Sulawesi Tengah, Kaili adalah sekelompok orang yang turun (mengalir) dari dataran tinggi (gunung-gunung) Sulawesi Tengah ke lembah-lembah hingga pesisir, dan membentuk komunitas yang semakin besar. Peristiwa ini bermula ketika zaman es mencair (gletser) dan menerjang puncak-puncak gunung di Sulawesi Tengah. Penduduk di gunung mengalir (noili) dan bersaudara (nosikai) hingga tersebar di tujuh (pitunggota) wilayah. Mereka semua menggunakan bahasa Kaili dengan dialek ledo (tidak). Konon, makna tidak ini berpengaruh terhadap sifat orang Kaili yang tidak mau berkompromi terhadap ketidakdilan. Bahkan, sesama mereka pun sulit mencapai kata sepakat. Namun dalam hal kepemimpinan, semangat ledo ini berpengaruh pada ketegasan dan konsistensi sikap orang Kaili.
Menurut cerita yang lain, Kaili adalah nama pohon yang ditemukan di puncak gunung Sulawesi Tengah. Ketika puncak gunung itu mencair, pohon tersebut tidak ikut terseret air. Oleh to Kaili, pohon ini dijadikan simbol pemimpin yang teguh, kuat, tegas, dan tidak goyah oleh rintangan. Filosofi ini terus menguat dalam perjalanan hidup orang Kaili dan dalam upaya mereka memilih Tadulako (pemimpin).
Dalam bahasa Kaili, Tadulako berarti pemimpin. Secara gramatikal Kaili, tadu artinya tumit. Lako artinya pelaku atau langkah. Tadulako dapat dimaknai sebagai langkah kaki pemimpin. Karena itu, masyarakat harus mengikuti setiap langkah dan aturan yang ditentukan oleh pemimpin mereka. Konsepsi pemimpin Kaili ini tidak lepas dari sejarah kehidupan yang dialami to Kaili. Menurut sejarahnya, to Kaili telah mengalami tiga periode pada awal kehidupan mereka, yaitu periode to Malanggai (periode kehidupan yang dipimpin oleh laki-laki yang kuat dan berani), to Manuru (periode kehidupan yang dipengaruhi oleh ruh-ruh leluhur), dan Tadulako (periode kehidupan di bawah kepemimpinan raja-raja). Dalam perkembangannya, ketiga periode ini menginspirasi mereka dalam mengimajinasikan sosok pemimpin.
 
Kota Pitunggota
Sistem kepemimpinan wilayah to Kaili kuno dikenal dengan istilah pitunggota ngata (tujuh struktur kelembagaan). Sistem ini untuk mengatur tujuh kota atau wilayah tempat tingga to Kaili. Sistem ini merupakan cikal bakal pemerintahan adat dan dikenal sebagai Kaili besar yang tersebar di beberapa wilayah keadatan, yaitu galara ri pujananti (Banawa/Ganti), pabisara ri pulu tantanga (Pulu), magau ri baloni (Sigi), baligau ri lando (Dolo), jogugu ri (Parigi), kapita ri besoa (Lore), dan ponggava ri pinembani (Dombu).
Sistem pitunggota ngata Kaili ini merupakan sebuah sistem pembagian kewenangan dalam menata kelola, mengorganisasikan dan melayani masyarakat. Dalam implikasinya, ketujuh negeri (kota pitunggota) tersebut memiliki fungsi dan peranan tertentu yang saling memperkuat dan saling mengisi antara satu sama lain. Tujuh negeri (kota pitunggota) tersebut dalam menjalankan fungsi pemerintahan adatnya masing–masing memiliki semacam legitimasi kekuasaan berupa payung dan penyangga atau bantal dudukan, atau dalam bahasa Kailinya disebut payu nte luna pelanti.
Distribusi wilayah di atas dilaksanakan berdasar sub-dialek bahasa Kaili, yaitu payu pujananti untuk sub dialek unde, pu’u dan undepu’u. Payu pemantoa untuk sub dialek doi, payu parampata untuk sub dialek rai, payu tantanga–pulu untuk sub dialek tado, payu Sidiru– Sibalaya untuk sub dialek ado dan edo, luna pelanti ri Tana Mbulava mencakup empat sub dialek Kaili, yaitu ija, ledo, tara dan tiara, di mana pada keempat sub dialek tersebut berkedudukan empat kewenangan pemerintahan adat, yaitu Magau, Baligau, Jogugu dan Kapita. Terakhir payu pinembani–dombu untuk sub dialek Da’a, Inde dan Ende.
Meskipun berada di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sampai saat ini sistem kepemimpinan tradisional Kaili masih tetap ada, di bawah Badan Musyawarah Adat (BMA), baik tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa atau kelurahan. Semangat kepemimpinan masih terus digemakan, khususnya ketika digelar upacara adat dan pembacaan syair-syair Kaili. Pola kepemimpinan ini masih dijaga dan dapat hidup berdampingan dengan kondisi masyarakat Sulawesi Tengah yang majemuk.

Mata, Telinga, dan Mulut
Seorang Tadulako harus dapat menjaga mata, telinga, dan mulutnya. Hal ini termaktub dalam ungkapan Kaili, pakanoto mata mangantoaka (membaca keadaan dengan penglihatan mata kepala, mana yang baik dan tidak untuk perbaikan kehidupan masyarakat), pankanasa talinga mongepe (segala sesuatu yang didengar oleh telinga, harus dicermati dengan jelas secara nyata agar tidak menimbulkan fitnah dan menimbulkan konflik), dan pakabelo sumba mojarita (jangan berkata yang dapat menyinggung perasaan orang lain, menghina, menghujat, dan memfitnah).
Ketika banyak politikus lebih mementingkan citra, dana kampanye, dukungan partai, dan tim kampanye meskipun cepat hilang dan tidak dihargai orang, syarat Tadulako yang menjaga mampu menjaga mata, telinga, dan mulut ini sangat menarik. Karena, sekilas syarat ini sangat mudah untuk dilakukan, namun secara maknawi sebenarnya sulit dipenuhi. Mudah, karena seseorang hanya butuh menutup mulutnya jika ia melihat dan mendengar sesuatu yang buruk. wajar jika banyak kasus korupsi dan sulit diungkap di negeri ini. Sulit karena hal itu justru menjadi beban jika yang dilihat, dengar, dan katakan tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Penetapan mata, telinga, dan mulut adalah sesuatu yang vital, karena itu melekat langsung pada pemimpin. Pemimpin akan dihargai dan dihormati dengan sendirinya jika dapat menjaga ketiganya.
Setelah 67 tahun Indonesia merdeka, rakyat masih mengalami ketidakadilan yang nyata, baik secara politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Mereka yang memimpin tampak masih memakai baju kekuasaan yang mementingkan pribadi, golongan, atau partai mereka. Ketidakadilan terlihat nyata dalam konflik tanah, jalanan yang rusak, ketimpangan yang jauh antara yang miskin dan kaya, atau sarana pendidikan yang buruk. Beragam kritik sudah disampaikan. Rakyat tak henti-hentinya memprotes. Tak sedikit pula yang nekat melawan dengan fisik. Namun, ketidakdilan itu tampak semakin nyata. Rakyat selalu kalah dan dikalahkan. Sudah bebalkah pemimpin kita? Dalam konteks ini, maka syarat-syarat Tadulako di atas masih aktual untuk dihayati dan diupayakan.

Kebudayaan pemimpin Kaili penting untuk dipelajari. Pola adat pitunggota mungkin dapat dijadikan cermin bagaimana dahulu leluhur Kaili mengorganisir wilayah yang luas dan penduduknya yang tersebar. Syair kepemimpinan yang dilantunkan dari dataran tinggi, lembah, hingga ke pesisir menjadi simbol bahwa sosok Tadulako memiliki kepekaan dan mau turun ke bawah menemui dan menanyakan kesulitan rakyatnya. Tadulako juga mengayomi rakyatnya yang majemuk dengan disimbolkan oleh beragam alunan musik. Tadulako juga pemimpin yang tegas, keras, serius, dan kuat pendirian dengan disimbolkan oleh teriakan-teriakan para topo (pemain) dan suara gimba yang rancak, keras dan menghentak. Namun demikian, Tadulako haruslah tetap rendah hati yang disimbolkan oleh suara lalove yang lembut. 

Oleh Yusuf.
Sebuah Apresiasi Karya.
Penulis Adalah Pemerhati Seni Budaya Sulawesi Tengah Tinggal di Yogyakarta.