Izat Nte Roa "Aku Bunyi Palu Sunyi"

Kesenian tradisi masyarakat Kaili khususnya dan tradisi seluruh etnis di Nusantara, sesungguhnya telah menyerap esensi dari seni kekininan (kontemporer) yang terus mencari bentuknya lewat berbagai macam wujud-wujud eksperimen. Pada perkembangannya kita terus melihat batas yang semakin tipis di antara seni pertunjukkan satu dan lainnya bahkan lintasan menuju gender-gender seni rupa menjadi logis ketika diterjemahkan secara konseptual pada sebuah pertunjukkan tari, teater atau musik.


Bagi pelaku seni tradisi, nyanyian berfungsi sebagai pereda kemarahan dan penyakit lainnya Nosuaraka misalnya, dalam ritual penyembuhan masyarakat suku Kaili (Balia) ini terasa begitu dekat tautannya secara fisik dengan gender musik, karena memang di dalamnya terdapat pola-pola musikal itu sendiri baik penggunaan notasi pentatonik, birama serta tekhnik-tekhnik koor maupun solo. Namun lebih dari pada itu semua, dalam nanyian ini setiap pelakunya seperti menyepakati untuk membangun suasana tenang dan  kontemplatif, dimana nyanyian ini tidak menjadi lantunan maupun teks sebagai “Striker tunggal” untuk menyampaikan makna dan tujuan-tujuan tersebut. Setiap unsur–unsur di sekitarnya menjadi kesatuan yang utuh dalam rangka tujuan sekalipun secara fisik unsur-unsur tersebut jauh dari bentuk musik atau kategori-kategori tertentu yang menyekat musik dengan hal-hal selain bunyi seperti perubahan-perubahan gesture, penempatan-penempatan pelaku nanyian yang terasa seperti blocking dalam tetaer, mimik, respon, properti-properti dan seterusnya. Semua hal tersebut terintegrasi secara kuat dengan nanyian, bahkan suasa hening yang muncul sekali-kali menjadi sesuatu yang begitu berarti di dalamnya. Ya, pada sebahagian besar nanyian tradisi Kaili jika kita mencermatinya akan ditemukan bahwa “musik lebih dari sekedar bunyi”.

Izat Gunawan, lelaki kelahiran Palu 23 april 1985, dengan segenap talentanya menggagas karya musikal Aku Bunyi Palu Sunyi; sebuah karya musik eksperimental yang memprioritaskan strategi penyampaian dengan menyerap tekhnik nyanyian tradisi ke dalam ruang musik kekinian guna menjelajahi kemungkinan-kemungkinan “yang lain” dalam menyampaikan makna di balik karya musik. Beberapa kolaborasi Izat Gunawan dengan seniman lain, antara lain :
  1. Bersama S.S Linosidiru menggarap sebuah karya musik yang diangkat dari puisi Tjato Tuan Saichu berjudul “Soyo Lei” di gedung teater tertutup Taman Budaya Sulteng tahun 2010
  2. Bersama S.S Lentera menggarap karya Musik “Ondo Lea” (unplugged version) pada Festival Negara Kertagama di Gedung Cak Durasim Surabaya tahun 2010
  3. Bersama Komunitas Seni Tadulako menggarap karya musik “ Ondo Lea” pada Festival Teluk Palu di Taman Ria tahun 2010
  4. Bersama S.S Linosidiru menggarap sebuah karya musik berjudul OA OA dalam rangka penutupan Festival Monolog Sulteng yang digelar S.S Darsah di teater tertutup Taman Budaya Sulteng tahun 2011
  5. Terlibat sebagai player pada sebuah karya musik “Di sini lebih dari Ada” karya Umaryadi Tangkilisan, S.Psi. dalam rangka Palu Contemporary di Gedung Joeang tahun 2011
  6. Bersama komunitas seni Tadulako menggarap karya musik “Indoku Bumi Uma ku langi” pada Indonesia Musik Expo di Nusa Dua dan Arma Museum Ubud, Bali tahun 2011
  7. Bersama S.S Buvu Sopi dolo dan Orkes Mata Air menggarap “Blues Bada Bida” pada sebuah eksperimental project Cocoa Tree #1  di desa Kota Pulu kec Dolo Kab Sigi tahun 2011
Saksikan penampilan Izat Gunawan Nte Roa di REPALUTION #1, 28 Januari 2012, jam 20:00-23:59, Bundaran Bumi Nyiur (Jl. Katamso) Palu.
Support our local musician !!! Repalution !!!
Sumber : Repalution