Header Ads

test

" Tari Pemburu " dari Sea-Sea

Oleh: : Amin Abdullah, Praktisi seni dan kebijakan kebudayaan, tinggal di Palu.

Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.

Delapan orang pemuda gagah bertelanjang dada sambil memegang tombak merah (kalait) memasuki panggung. Dengan berkalung manik-manik (inong) dan hanya beralaskan rumbai-rumbai yang sederhana (kombutok) untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, mereka berjalan membuat lingkaran. Di tengah panggung teronggok batang pohon pisang kecil yang telah ditusuk oleh sebuah tombak putih. Terkadang mereka membuat gerakan kaki dan tangan yang sama sambil sesekali berteriak untuk membangkitkan semangat sesama mereka. Musik dari beberapa gong dan gendang membuat gerakan mereka terasa semakin kuat.
Mereka adalah rombongan pemburu atau topidau suku Sea-Sea yang sedang mencari hewan buruan. Dengan tombak digenggam di atas kepala, lingkaran itu mencari, membidik, dan mengepung pusat lingkaran yang diandaikan menjadi hewan buruan. Beberapa saat kemudian mereka menancapkan tombak mereka secara serentak ke batang pohon pisang tadi. Segera terbentuk delapan tombak merah yang mengitari “hasil buruan”.
Kedelapan pemuda tadi sesaat bersuka ria dengan menari melingkari hasil buruan. Kemudian mereka duduk dan membaca mantra yang semakin lama semakin keras dan mencapai puncaknya ketika mereka terbaring dalam keadaan trance. Mantra itu ternyata berisi doa kepada dewa agar hasil buruan mereka menjadi makanan yang berguna buat mereka, bukan malah menjadi bencana buat mereka.
            Adegan pemujaan atas rasa syukur yang disebut talapu ini kemudian diikuti gerakan-gerakan Toluni dan Osulen yang sepertinya nampak sebagai ungkapan kegembiraan. Ternyata gerakan itu adalah gerakan untuk memasukkan roh-roh gaib yang disebut Talapu ke dalam tubuh mereka.

Aksi Turunan Pemburu
Demikian gambaran tari Ulap atau tari berburu yang dimainkan Sanggar Budaya Lipuadino Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Propinsi Sulawesi Tengah. Tari ini dimainkan pada malam pertama Festival Banggai yang diselenggarakan di Kota Luwuk untuk menyambut hari jadi Kerajaan Banggai yang ke 410. Perayaan berlangsung pada 10 hingga 16 Mei lalu.
Tari ini dimainkan oleh anak-anak SMA Kecamatan Bulagi Selatan, salah satu kecamatan di Kabupaten Banggai Kepulauan. Mereka bukan orang yang belajar tari di akademi atau kursus dalam waktu yang menahun. Namun, baru saja bergabung pada satu-satunya sanggar di kecamatan yang cukup jauh dari pusat kota Luwuk.
Mereka adalah anak keturunan suku Sea-Sea, suku pedalaman yang menempati pegunungan Pipikemo di Banggai Kepulauan sekitar 1000 meter lebih di atas permukaan laut. Mereka bukan lagi pemburu, namun telah menjadi pelajar. Tetapi di tubuh mereka mengalir “darah” pemburu atau mangalus yang mereka dapat dari orang tua mereka yang masih tinggal di Desa Osan Lemelu. Berjarak 50 kilometer dari Lolantak, ibu Kota Kecamatan Bulagi Selatan, desa ini harus ditempuh lagi dengan 8 kilo mendaki gunung.
Menurut Ahas Weros, “koreografer” tari Ulap yang sebenarnya seorang pegawai Tata Usaha SMP di Bulagi Selatan, anak-anak itu hanya berlatih seminggu. Dengan mencontohkan gerak dan membangkitkan memori mereka pada orang-orang tua mereka di kampung, Ahas Weros yang juga anak keturunan suku Sea-Sea, menyulap anak-anak sekolah itu seolah-olah menjadi “penari professional” yang paham betul makna gerak yang mereka bawakan. Bila mereka menjadi “bintang” pada malam hari itu, tidak ada yang perlu diherankan. Anak-anak suku Sea-Sea yang sudah sekolah itu, “hanya” menampilkan sekelumit kehidupan keseharian orang tua mereka yang dikemas dalam tari berburu—sesuatu yang dekat dalam memori mereka.
Ahas Weros pun senang. Penampilan anak asuhnya melebihi dari apa yang dia harapkan. “Karya” tarinya mampu menyedot perhatian penonton karena unik di tengah penampilan tari kreasi baru lainnya pada malam itu. Kesederhanaan penampilan, tanpa baju serta aksesoris apa adanya, memang menjadi kontras dengan rata-rata penampilan kesenian kreasi baru lainnya yang ditampilkan. Mereka berada di tengah lautan busana daerah yang berwarna menyala, kemilau aksesoris dan make up wajah keluaran salon kecantikan.

Mudah dan Murah
Ibu Rusmani, pembina sanggar sekaligus penata busana tari ini, memang sengaja menginginkan penampilan yang sedapat mungkin mendekati keseharian orang Sea-Sea. Guru SMA yang juga masih berdarah Sea-Sea ini mempunyai beberapa alasan untuk hal ini: di sanggarnya tidak mempunyai ahli penata tari, penata musik ataupun penata busana yang mampu membuat karya-karya kreasi baru. Sehingga, apa yang ada pada mereka, terutama kebudayaan masyarakat adat terpencil suku Sea-Sea menjadi sumber penciptaan seni mereka.
Sanggar ibu Rusmani tidak lagi kebingungan mencari materi bila ada undangan festival baik mewakili kecamatan Bulagi Selatan di tingkat Kabupaten maupun mewakili Kabupaten Banggai Kepulauan di tingkat Propinsi Sulawesi Tengah. Kebudayaan Suku Sea-Sea adalah tambang budaya yang tidak akan habis untuk digali.
Selain itu, menurutnya, dengan menjadikan kehidupan keseharian orang Sea-Sea sebagai sumber inspirasi produk sanggarnya, dia terbantu untuk menekan biaya produksi. Busana, aksesoris, property, alat musik sudah ada, sederhana dan mudah dibuat atau didapatkan. Penarinya tidak perlu ke salon, karena mereka mempunyai konsep sendiri tentang make up wajah dengan bahan yang di dapat di hutan. Mereka tidak perlu menyewa kostum di tempat penyewaan atau membuatnya dari bahan yang mahal. Hutan di desa Osan Lemelu menyediakan bahan yang tidak akan habis untuk dibentuk sendiri menjadi busana dan perlengkapan tarian.
Cita-cita Ahas Weros dan Ibu Rusmani tentang sanggar mereka sekaligus sebagai anak keturunan Sea-Sea cukup sederhana: mereka ingin agar budaya nenek moyangnya dapat dikenal orang banyak. Mereka ingin pergi ke beberapa tempat di Kabupaten Banggai Kepulauan dan di Propinsi Sulawesi Tengah untuk menampilkan kesenian mereka.
Adapun anak keturunan Suku Sea-Sea yang sekarang menjadi anak sekolahan itu, sangat senang dengan mempunyai profesi tambahan sebagai “penari”. Mereka akhirnya, untuk pertama kalinya, dapat melihat kota Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai secara gratis. Hal yang sulit mereka lakukan bila harus membiayai perjalanannya sendiri, karena ongkosnya yang terlalu mahal untuk ukuran kantong mereka.